Reid50simon's website

Our website

24
Ja
Penjelasan Aqiqah Merujuk Agama Islam
24.01.2017 05:51


Pendapat bahasa ‘Aqiqah artinya: mengabung. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, sebab dipotongnya lembut binatang beserta penyembelihan itu. Ada yang mengatakan kalau aqiqah ialah nama untuk hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya dipotong Ada pula yang menunjukkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serabut yang tersembunyi pada kepala si balita ketika ia keluar daripada rahim permulaan, rambut berikut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah ialah penyembelihan domba/kambing untuk momongan yang dilahirkan pada hari ke tujuh, 14, / 21. Jumlahnya 2 ekor untuk momongan laki-laki serta 1 sudut untuk bocah perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Semua anak momongan tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Daripada Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang sama dan bocah perempuan wahid kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak tersebut tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya di hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bertitah: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, jadi sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua huru-hara darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Daripada ‘Amr bin Syu’aib mulai ayahnya, mulai kakeknya, Nabi bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kemunculan bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang serupa dan untuk perempuan wahid kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW tahu ber ‘aqiqah untuk Laksmi dan Husain pada hari ke-7 atas kelahirannya, sira memberi sebutan dan menyabdakan supaya dihilangkan kotoran daripada kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, pada AI-Mustadrak bagian 4, sesuatu. 264]

Bukti: Hasan dan Husain merupakan cucu Nabi SAW.

Dari Fatimah binti Muhammad pada melahirkan Laksmi, dia berkata: Rasulullah berkata: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada sosok miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih dalam hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi serta Thabrani).

Patokan Aqiqah Keturunan adalah sunnah (muakkad) serasi pendapat Imam Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan paling banyak ulama terampil fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sambil kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah adalah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan bersihkan darinya telau (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Sidang: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah komando, namun tak bersifat tentu, karena tersedia sabdanya yang memalingkan dari kewajiban ialah: “Barangsiapa di antara kalian tersedia yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, dipastikan silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Abu Dawud serta An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan kaidah yang memalingkan perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Malik berkata: Aqiqah itu laksana layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh dalam aqiqah ini hewan yang picak, kurus, patah rangka, dan linu. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Dan harus dihindari dalam fauna aqiqah ini cacat-cacat yang tidak diperbolehkan dalam qurban.

Buraidah berkata: Dulu kami dalam masa jahiliyah apabila melenceng seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan mengotori kepalanya dengan darah wedus itu. Jadi setelah Tuhan mendatangkan Agama islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) penyelenggara si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Debu Dawud perkara 3, sesuatu. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang dalam masa jahiliyah apabila tersebut ber’aqiqah untuk seorang momongan, mereka melumuri kapas beserta darah ‘aqiqah, lalu tatkala mencukur serat si budak mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW berkata, “Gantilah resam itu beserta minyak wangi”.[HR. Ibnu Hibban secara tartib Rumpun Balban bab 12, sesuatu. 124]

Menunaikan aqiqah dari segi kesepakatan para ulama ialah hari ketujuh dari kelahiran. Hal tersebut berdasarkan hadits Samirah pada mana Nabi SAW bersabda, “Seorang anak terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh & diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan gak bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Meski tidak pun, maka saat hari ke-21 atau bilamana saja ia mampu. Imam Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) atas dasar bujukan, maka sekiranya menyembelih saat hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah semua. Karena prinsip ajaran Agama islam adalah memudahkan bukan merepoti sebagaimana tutur Allah SWT: “Allah mengkhayalkan kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berlandaskan sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak itu tergadai secara hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi identitas. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan sebab At Tirmidzi)

Dan jikalau tidak mampu melaksanakannya saat hari ketujuh, maka sanggup dilaksanakan dalam hari ke empat belas kasihan, dan jika tidak siap, maka pada hari di dua puluh satu, itu berdasarkan hadits Abdullah Ibnu Buraidah daripada ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih di hari ketujuh, ke 4 belas, serta ke dua puluh satu. ” (Hadits hasan hal Al Baihaqiy)

Namun sesudah tiga minggu masih gak mampu oleh karena itu kapan saja pelaksanaannya di kala sudah biasa mampu, karena pelaksanaan di hari-hari ke tujuh, di empat belas kasihan dan ke dua puluh satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama sungguh wajib. Serta boleh juga melaksanakannya pra hari di tujuh.

Budak yang menyisih dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan pun untuk disembelihkan aqiqahnya, lebih dari itu meskipun balita yang kelulusan dengan tata sudah berusia empat bulan di dalam rahim ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada ayah si momongan. Namun bila seseorang yang belum pada sembelihkan satwa aqiqah oleh orang tuanya hingga ia besar, oleh sebab itu dia mampu menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan kalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri jadi hal ini tidak apa-apa menurut abdi, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika bukan bisa, oleh sebab itu pada hari keempat belas. Dan jika tidak bisa juga, maka pada hari ke-2 puluh tunggal. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi beban ayah.

Tapi demikian, bahwa ternyata begitu kecil ia belum diaqiqahi, ia sanggup melakukan aqiqah sendiri pada saat dewasa. Satu saat al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah begitu besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad menyambut, “Menurutku, kalau ia belum diaqiqahi saat kecil, dipastikan lebih cantik melakukannya sendiri saat gede. Aku bukan menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga menganggap demikian. Menurut mereka, anak-anak yang sudah biasa dewasa yang belum diaqiqahi oleh sosok tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Jumlah Hewan

Total hewan aqiqah minimal merupakan satu termuda baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sesuai perkataan Putra Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan & Husain mono domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Debu Dawud & Ibnu Al Jarud)

Kita harus sadar bahwa Hasan dan Husain adalah budak kembar. Oleh karena itu pada mono kelahiran ini disembelih dua ekor kambing.

Namun yang lebih utama adalah 2 ekor untuk anak laki-laki & 1 kontrol untuk keturunan perempuan berlandaskan hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menitahkan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki dua ekor sedia dan mulai anak perempuan satu sudut. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Kepala Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang mempunyai: “Nabi SAW memerintahkan meronce agar disembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki 2 ekor domba yang seimbang dan dari anak dara satu ekor. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan dengan ‘aqiqah

Yang berhubungan secara sang keturunan

1. Disunnatkan untuk menyampaikan nama serta mencukur rambut (menggundul) dalam hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir pada hari Unik, ‘aqiqahnya tanggal pada hari Sabtu.

2. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kibas sedang untuk anak perempuan 1 kontrol.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan terhadap orang tua si anak, tapi boleh pula dilakukan per keluarga lainnya (kakek serta sebagainya).

4. Aqiqah itu hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Elok Mentah Atau Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sudah biasa dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor wedus untuk anak laki-laki dan wahid ekor kibas untuk keturunan perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah diberikan kepada tetangga dan melarat miskin juga bisa dikasih kepada orang2 non-muslim. Apalagi jika sesuatu itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya dan dalam rajah dakwah. Dalilnya adalah tutur Allah, “Mereka memberi mencopet orang melarat, anak yatim, dan tawanan, dengan sentimen senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada ketika itu ialah orang-orang kafir. Namun demikian, keluarga juga boleh membersihkan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kibas, tanpa menghitung apakah lelaki atau bini, sebagaimana babad di kaki gunung ini:

Atas Ummu Kurz AI-Ka’biyah, bahwasanya ia tahu bertanya terhadap Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka tutur beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kibas dan untuk anak perempuan satu kontrol kambing. Gak menyusahkanmu cantik kambing ini jantan ataupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kita belum memperoleh dalil lainnya yang mengisyaratkan adanya hewan selain kambing yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Ruang yang dituntunkan oleh Rasul SAW berlandaskan dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 dari kelahiran keturunan tersebut. [Lihat dalil riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian uci-uci Aqiqah

Adapun dagingnya maka dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, & mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjumput kerabat dan tetangga untuk menyantap persembahan daging aqiqah yang sudah biasa matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada umat islam, dan mampu mengundang teman2 dan kerabat untuk menyantapnya, atau mahir juga dia mensedekahkan segenap. http://dapoeraqiqah.com/catering-aqiqah-bandung/ Syaikh Putri Bazz mengatakan: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya serta memasaknya kemudian mengundang manusia yang tuan lihat sedang diundang dari kalangan nenek, tetangga, sobat-sobat seiman dan sebagian orang-orang faqir untuk menyantapnya, & hal seperti dikatakan oleh Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Bani

Tidak diragukan lagi bahwa ada signifikansi antara arti sebuah identitas dengan yang diberi seri. Hal tersebut ditunjukan dengan adanya sejumlah nash syari yang menyarankan hal tersebut.

Dari Serbuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam hendaknya Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menggubris sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam seri berkaitan dengannya sehingga seumpama makna-makna tersebut diambil darinya dan seakan-akan nama-nama ini diambil daripada makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui imbas nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah ini:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Saya datang kepada Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku elakan: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama penghargaan bapakku” Ibnu Al-Musayyib mengatakan: “Orang itu senantiasa bergaya keras tentang kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang baik untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban wali. Di antara nama-nama yang elok yang padan diberikan merupakan nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana bicara beliau: Dari Jabir Ra dari Nabi SAW sira bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik pikir ajaran Islam, silahkan kumpulan:

Memberi Pamor Bayi alias Anak Secara Islami


Membabat Rambut

Membabat rambut merupakan anjuran Nabi yang amat baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru wujud pada hari ketujuh.

Pada hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terpukau dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi seri, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik meriwayatkan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Patut dan Husein lalu sira menyedekahkan perak seberat serat tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut mesti dilakukan beserta rata; tidak boleh cuma mencukur sekitar kepala & sebagian lainnya dibiarkan. Pasti lah semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- bertambah besar lagi sedekahnya.

Rayuan Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Artinya: Dengan identitas Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta daripada ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa momongan baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Berarti: Aku berlindung untuk keturunan ini beserta kalimat Tuhan Yang Tertib dari seluruh gangguan syaitan dan sindiran binatang dan gangguan sorotan mata yang dapat mengangkat akibat jelek bagi apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari sisi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs mempunyai beberapa moral diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di meneladani Nabiyyullah Ibrahim AS tatkala Tuhan SWT menyelesaikan putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di dalam aqiqah itu mengandung unsur perlindungan dari syaitan yang dapat mengocok anak yang terlahir ini, dan tersebut sesuai secara makna hadits, yang berarti: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Maka itu Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Tuhan lebih selamat dari huru-hara syaithan yang sering mengocok anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud oleh Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah yakni tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak dalam hari rekapitulas. Sebagaimana Imam Ahmad menyebarkan: “Dia tergadai dari menganjurkan Syafaat bagi kedua orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan wujud taqarrub (pendekatan diri) menurut Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus serupa wujud rasa syukur untuk karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya sang anak.

5. Aqiqah serupa sarana menimbulkan rasa gembira dalam menjalankan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukmin yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara bangsa.

Dan sedang banyak juga hikmah yang terkandung pada pelaksanaan Syariat Aqiqah berikut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas balik dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Adam al-Bustoni, secara judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free website powered by Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!